Apa itu Kalimat

SINTAKSIS
Sintaksis
Secara umum sintaksis adalah ilmu yang mempelajari tatakalimat. Parera (1988: 2) menjelaskan bahwa kalimat adalah bentuk ketatabahasaan yang maksimal yang tidak merupakan bagian dari sebuah konstruksi ketatabahasaan yang lebih besar dan lebih luas. Pendapat lain  menjelaskan bahwa sintaksis adalah Sintaksis adalah salah satu cabang linguistik yang membicarakan  kata dalam hubungannya dengan, atau unsure-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Ramlan (1976: 57) berpendapat bahwa sintaksis adalah bagian dari tatabahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat. Dalam pembahasan sintaksis yang dibicarakan adalah (1) struktur sintaksis, (2) satuan-satuan sintaksis  dan (3) hal-hal lain  yang berkenaan dengan sintaksis.
1.  Struktur Sintaksis
Yang dibicarakan dalam struktur sintaksis adalah fungsi, kategori dan peran-peran sintaksis. Fungsi sintaksis berhubungan dengan subyek, predikat, obyek dan keterangan pada kalimat. Kategori sintaksis berhubungan dengan kelas kata seperti verba, ajektifa, numeralia dan lain lain, sedangkan peran dalam sintasis adalah pelaku, penderita, penerima.
Contoh: Mr Sakai melihat telivisi tadi pagi, kalimat ini apabila dilihat dari struktur sintaksis dapat diuaraikan sebagai berikut:
(a) fungsi sintaksis
Mr Sakai  melihat  telivisi  tadi pagi
Subyek     predikat  obyek    keterangan
(b) kategori sintaksis
Mr Sakai  melihat  telivisi  tadi pagi
Nomina     verba      nomina  nomina
(c) peran sintaksis
Mr Sakai  melihat  telivisi  tadi pagi
Pelaku       aktif      sasaran     waktu
2. Satuan- Satuan  Sintaksis
Yang menjadi topic pada satua-satuan sintaksis adalah
(1) kalimat
(2) klausa
(3) frase
2.1 Kalimat
Satuan bahasa yang secara relative dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi
akhir dan yang terdiri dari klausa (Cook, 1971: 39-40) dalam (Tarigan, 1983: 5). Kalimat dapat
diklasifikasikan berdasarkan pada: (a)  jumlah dan jenis klausa, (b) struktur internal klausa
utama, (c) jenis reponsi yang diharapkan, (d) sifat hubungan actor-aksi, (e) ) ada atau tidaknya
unsure negative pada frase verba utama (f) kesederhanaan dan kelengkapan , (g) posisinya
dalam percakapan, (h) konteks dan jawaban yang diberikan.
a. kalimat dilihat dari jumlah dan jenis klausa
dipandang dari segi kalimat dilihat dari jumlah dan jenis klausa, dapat dibedakan
menjadi:
(1) kalimat tunggal
Kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas tanpa klausa terikat (Cook, 1971: 38; Elson
and Picket, 1969: 123) dalam (Tarigan, 1983: 5). Contoh:
Ø  Saya minum
Ø  Dia pulang
Ø  Roni rajin
(2) kalimat bersusun
Kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat
Contoh:
Ø  Dia tidur sebelum kami pulang
Ø  Kami mau makan kalau ayah sudah pulang
Ø  Orang yang merokok itu, guru baru
(3) kalimat majemuk
Kalimat yang terdiri dari beberapa klausa bebas
Contoh:
Ø  Rani mengambil es krim dari dalam lemari es dan memakannya sampai habis.
Ø  Ratih mengambil uang di bank lantas membeli buku di Gramedia
Ø  Rosa belajar di kamar, tetapi Rosi melihat televise di ruang keluarga
b. kalimat dilihat dari segi struktur internal klausa utama
dilihat dari segi struktur internal klausa utama, dapat dibedakan menjadi
(1) kalimat sempurna
(2) kalimat tidak sempurna
Beberapa Linguist memberikan istilah yang berbeda untuk kedua jenis kalimat tersebut, diantaranya adalah
v  Bloomfield memberikan istilah full sentence dan minor sentence (1955:171)
v  Hockett memberikan istilah fafvorite sentences dan minor sentence (1958: 200)
v  Nida memberikan istilah principal sentences dan non principal sentences (1946: 26)
v  Cook memberikan istilah complete sentences dan incomplete sentences (1971:40)
v  Elson and Pickett memberikan istilah  independent sentences dan dependent sentences (1969: 121) selain memberikan kedua istilah tersebut pada buku yang sama  halaman 38
Istilah yang diberikan adalah major sentences dan minor sentences
Pada tulisan ini kita tetap menggunakan kalimat sempurna dan kalimat tidak sempurna
1. kalimat Sempurna
Kalimat sempurna adalah kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa bebas (Cook, 1971: 47 dalam Tarigan (1983: 9), yang menjadi dasar dari kalimat sempurna adalah Klausa bebas. Kalimat tunggal, kalimat bersusun dan kalimat majemuk masuk dalam kalimat sempurna.
Contoh:
      Adik makan
      Ayah meninggal pada saat saya tugas belajar di Jepang
      Budi telalu banyak minum sehingga dia mengalami kecelakan pada saat perjalanan  pulang
2. Kalimat Tidak Sempurna
Kalimat yang dasarnya hanya terdiri dari sebuah klausa terikat, atau sama sekali    mengandung struktur klausa (Cook, 1971: 47) dalam Tarigan (1983: 9). Yang tercakup pada kalimat tidak sempurna adalah alimat-kalimat urutan, sampingan, elips, tambahan, jawaban, seruan dan kalimat minor. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan contoh di bawah ini
Ayah    :           Mau kemana kamu hari minggu?
Rosa    :           Matos
Ayah    :           Beli apa?
Rosa    :           Buku
Ayah    :           Buku?????
Rosa    :           Iya, di Gramedia
c. Bila dilihat dari segi jenis response yang diharapkan.
ada tiga jenis kalimat yang tercakup di dalamnya, yaitu:
(1) kalimat  pernyataan
(2) kalimat  pertanyaan
(3) kalimat perintah
(1) Kalimat pernyataan
Kalimat yang dibentuk untuk menyatakan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Contoh:
·         Ibu memasak gulai kikil
·         Ardhy belajar di kamar
·         Ayah tidur
(2) kalimat pertanyaan
Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancingresponsi yang berupa jawaban. Contoh:
·         Di mana kamu belajar Bahasa Jepang?
·         Dari siapa kamu mendapatkan buku itu?
·         Mengapa kemarin kamu tidak hadir?
(3) kalimat perintah
Kalimat perintaha adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa tindakan. Contoh
·         Ardhy, belajar!
·         Kerjakan halaman 3!
·         Ambilkan buku di atas meja!
(d) Bila dilihat sifat hubungan actor-aksi
Kalimat pada kelompok ini dibedakan:
(1) kalimat aktif
(2) kalimat pasif
(3) kalimat medial
(4) kalimat resiprokal
(1) Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subyeknya berfungsi sebagai actor atau pelaku. Contoh:
§  Ibu membuat donat kentang
§  Mr. Sakai merokok di halaman
§  Faris bekerja di kontraktor
(2) kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang subyeknya dikenai tindakan. Contoh:
§  Kakiku diinjak kakak
§  Dompetku diambil pencopet
§  Aisyah dipanggil Rektor
(3) kalimat medial
Kalimat medial adalah kalimat yang subyeknya berperanan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita. Contoh:
§  Dia menghibur hatinya
§  Dia menusuk jarinya
§  Aku menenangkan diriku
(4) kalimat resiprokal
Kalimat resiprokal adalah kalimat yang  subyek dan obyeknya melakukan aktifitas berbalas-balasan. Contoh:
§  Kita harus tolong menolong dengan teman
§  Sebelum pertandingan dimulai TIM A dan TIM B saling bersalaman
§  Pasukan Israel dan Palestina saling menembak di Jalur Gaza
e. Kalimat dipandang dari segi ada atau tidaknya unsure negative pada frase verba utama
ada dua jenis kalimat, yakni:
(1) kalimat alternative
(2) kalimat negative
(1) kalimat alternative
Kalimat alternative atau kalimat pengesahan adalah kalimat yang pada frase verba utamanya tidak terdapat unsure negative atau unsure penindakan, ataupun unsure penyangkalan. Contoh:
·         Saya membaca Koran
·         Dia mendengarkan radio
·         Pak Edi membeli runah baru
(2) kalimat negative
Kalimat negative atau kalimat penyangkalan adalah kalimat yang pada frase verbal utamanya terdapat unsure negative atau unsure penyangkalan. Contoh:
·         Hari ini dia tidak pergi
·         Tono tidak masuk sekolah
·         Ratih tidak mengikuti ujian akhir semester
f. kalimat dipandang dari segi kesederhanaan dan klengkapan dasar
dibedakan menjadi:
(1) kalimat formata
(2) kalimat transformata
(3) kalimat deformata
(1) kalimat formata
Kalimat formata adalah kalimat tunggal dan sempurna, yang terdiri dari satu klausa bebas. Suatu klausa yang menurut criteria formal dapat  berdiri sendiri dalam bahasa tertentu, sebagai suatu kalimat sempurna yang tersusun rapih dan di dalamnya terdiri dari kalimat inti. Kalimat inti adalah kalimat yang memiliki lima ciri, yakni:
a. tunggal
b. sempurna
c. pernyatan
d. aktif
e. afirmatif
(2) kalimat transformata
Kalimat transformata adalah kalimat lengkap tetapi bukan kalimat tunggal. Kalimat transformata ini mencakup kalimat tersusun dan kalimat majemuk. Kalimat ini dapat diturunkan dari kalimat-kalimat tunggal dengan penerapan proses perangkaian dan penggabungan
(3) kalimat deformata
Kalimat deformata atau  kalimat tidak sempurna adalah kalimat tunggal yang tidak sempurna, tidak lengkap. Yang meliputi struktur klausa terikat maupun struktur-truktur non klausa yang terjadi dalam sesuatu bahasa, sebagai kalimat-kalimat tipe minor. Apabila struktur kalimat meliputi partial saja, maka kalimat ini dapat diturunkan dari kalimat-kalimat tunggal dan sempurna dengan proses pengguguran.
Yang termasuk ke dalam golongan kalimat deformata ini adalah:
a. kalimat urutan
b. kalimat sampingan
c. kalimat elips
d. kalimat tambahan
e. kalimat jawaban
f. kalimat seruan
(a) Kalimat Urutan
Kalimat Urutan adalah kalimat sempurna yang mengandung konjungsi (yang menyatakan bahwa kalimat itu merupakan bagian dari kalimat lain) seperti maka, jadi, sedangkan, dan sebagainya.
Contoh:
Namun kamu tidak berubah sampai kini
Jadi kami tidak mau membayar kerugian itu
Tetapi harus diingat bahwa hal itu memalukan
(b) Kalimat Sampingan
Kalimat sampingan adalah kalimat tak sempurna yang terdiri dari klausa terikat, dan diturunkan dari kalimat bersusun (serta dapat digabungkan dengan kalimat tunggal yang mendahulukan untuk membentuk sebuah kalimat tersusun).
Contoh:
Justru pergaulanya makin bebas
Justru kedatangannya kian menyedihkan
Bahkan sebaliknya kelakuanya kian jelek
(c) Kalimat Elips
Kalimat Elips adalah kalimat tak sempurna yang terjadi karena pelenyapan beberapa bagian dari klausa, dan diturunkan dari kalimat tunggal.
Contoh:
Apa kerjamu sore-sore?
Membaca.(subjek dihilangkan)
Kamu membaca apa?
Buku. (subjek dan predikat dihilangkan)
(d) Kalimat Tambahan
Kalimat tambahan adalah kalimat tak sempurna yang terdapat dalam wacana sebagai tambahan pada pernyataan-pernyataan yang telah dikemukakan.
Contoh:
Saya akan pergi berlibur ke bali(pernyataan)
Minggu depan(kalimat tambahan)
Selama sebulan(kalimat tambahan)
Bersama isteri saya (kalimat tambahan)
Saya akan pergi berlibur ke bali Minggu depan Selama sebulan Bersama isteri saya
(e) Kalimat Jawaban
Kalimat Jawaban adalah kalimat tak sempurna yang bertindak sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan. Kalimat jawaban merupakan kalimat yang menyambung suatu percakapan dengan pergantian pembicara.
Contoh:
Siapa namamu ?                                 (pertanyaan)
Amat                                                   (kalimat jawaban)
(f) Kalimat Seruan
Kalimat Seruan adalah kalimat jawaban yang telah diperbincangkan dimuka merupakan kalimat tak sempurna tipe kompletif atu tipe penyempurnaan, sebab tugasnya menyempurnakan pernyataan atau pertanyaan yang telah dikemukakan sebelumnya. Kalimat seruan ini bisa digabungkan dengan setiap klalimat, tetapi kalau dipakai tersendiri secara terpisah dengan intonasi di akhir kalimat, kalimat  tersebut merupakan kalimat tak sempurna. Kalimat-kalimat seruan itu meliputi:
(1) kalimat non klausa
Kalimat non klausa bisa dibedakan menjadi:
Ø  Kelompok teriakan, panggilan, salam
Ø  Kel;ompok judul, motto, inskripsi
(2) kalimat struktur non-tipe atau struktur istimewa
Kalmat yang di dalamnya terdapat penggunaan-penggunaan bahasa khusus yang mungkin bisa menjadi penrangkap bagi peneliti bahasa apabila kurang berhati-hati.
v  Meta bahasa
Meta bahasa atau metalanguage adalah bahasa menegenai bahasa.
Contoh:
–          Di adalah kata depan
–          Dan merupakan kata sambung
–          Mengapa merupakan kata tanya
v  Bahasa singkat
Disebut juga  dengan abbreviated language biasanya dipergunakan dalam judul berita, penulisan telegram dan sebagainya. Strukturnya disingkat dengan cara menghilangkan  sejumlah kata tugas, dengan hasil yang menyebabkan pesan tersebut bersifat rahasia dan terkadang menjadi meragukan. Contoh:
·         Amin jalan turi delapan medan
·         Segera dating nenek meninggal besok sore dimakamkan
·         Nurani jalan sinabung lima bandung
Selain metabahasa dan bahasa singkat, ada beberapa bentuk-bentuk bahasa yang lain. Misalnya peribahasa, pepatah dan sebagainya.
g. kalimat dipandang dari segi posisinya dalam percakapan
dapat dibedakan menjadi:
(1) kalimat situasi
Kalimat situasi atau situation sentence adalah kalimat yang memulai suatu percakapan. Kalimat situasi ini juga meliputi panggilan, salam, atau jawaban .
Contoh:
§  Apa kabar?
§  Dari mana?
§  Ke mana?
(2) kalimat urutan
Kalimat urutan atau sequence sentence adalah kalimat yang menyambung atau meneruskan suatu pembicaraan tanpa mengganti pembicara.
Contoh:
§  Dia sangat bergembira melihat saya
§  Dia memeluk saya karena gembiranya
§  Lalu dia member uang pada saya
(3) kalimat jawaban
Kalimat jawaban atau response sentence adalah kalimat yang mkenyambung atau meneruskan pembicaraan dengan pergantian pembicara. Contoh:
Kalimat jawaban
§  Apa kabar                          kabar baik!
§  Selamat pagi                     selamat pagi!
§  Saya pergi, bu!                  Silahkan, baik-baik ya!
h. kalimat dipandang dari segi dari konteks dan jawaban yang diberikan
dibedakan menjadi:
(1) kalimat salam
(2) kalimat panggilan
(3) kalimat pertanyaan
(4) kalimat permohonan
(5) kalimat pernyataan
2.2 Klausa
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat, dan yang lain berfungsi sebagai subyek, obyek, dan sebagai keterangan.fungsi yang bersifat wajib pada konstruksi ini adalah subyek dan predikat sedangkan yang lain tidak wajib. Contoh:
Kamar mandi ——- bukan klausa
Alasannya:
Hubungan komponen kamar dan komponen mandi tidaklah bersifat predikatif
Nenek mandi   ——- klausa
Alasannya:
Hubungan komponen nenek dan komponen mandi bersifat predikatif
Klausa memiliki potensi untuk menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya sudah ada fungsi sintaksis wajib yakni subyek dan predikat. Untuk mengetahui jenis klausa perhatikan tabel di bawah ini.
Tabel 1                                                Analisis klausa dipandang dari segi:
Distribusi unit
Jenis kata predikat
Struktur internal
Hubungan actor-aksi
Fungsi
Bebas
verbal
Transitif
Aktif
Pasif
Medial
resiprokal
Intransitive
Non        statif
Verbal     ekuasio
nal
terikat
Nominal
Ajektival
Adverbial
3. Frase
Frase didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 1994:222). Frase terdiri lebih dari satu kata yang berupa morfem bebas. Yang dimaksud dengan bersifat non perdikatif adalah hubungan anatara kedua unsure yang membentuk frase itu tidak berstruktur subyek dan predikat atau berstruktur predikat-obyek Contoh:
–          Adik mandi           ——- bukan frase, karena adik  mandi
S        P
–          Menjual sepeda     ——- bukan frase, karena menjual     sepeda
P              O
–          Kamar mandi        ——- Frase, karena bersifat non predikatif
–          Bukan sepeda        ——- Frase, karena bersifat non predikatif
Tabel 2                                    analisis frase dilihat dari segi:
Tipe struktur                                                     Struktur internal
Posisi
eksosentris
Relasional
Preposisi
Posposisi
Preposposisi
Endosentris
Beraneka hulu
Kordinatif
Nominal
Verbal
Ajektival
adverbial
apositif
Modikatif
Nominal
Verbal
Ajektival
Adverbial
Frase, Klausa, dan Kalimat
A.      Frase
Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.
Dari batasan di atas dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu
a.       Frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih.
b.       Frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu: S, P, O, atau K.
Macam-macam frase:
A.       Frase endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Frase endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu:
1.       Frase endosentrik yang koordinatif, yaitu: frase yang terdiri dari unsur-unsur yang setara, ini dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan kata penghubung.
Misalnya:       kakek-nenek                         pembinaan dan pengembangan
laki bini                                  belajar atau bekerja
2.       Frase endosentrik  yang atributif, yaitu frase yang terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu, unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan.
Misalnya:       perjalanan panjang
hari libur
Perjalanan, hari merupakan unsur pusat, yaitu: unsur yang secara distribusional sama dengan seluruh frase dan secara semantik merupakan unsur terpenting, sedangkan unsur lainnya merupakan atributif.
3.       Frase endosentrik yang apositif: frase yang atributnya berupa aposisi/ keterangan tambahan.
Misalnya: Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai.
Dalam frase Susi, anak Pak Saleh secara sematik unsur yang satu, dalam hal ini unsur anak Pak Saleh, sama dengan unsur lainnya, yaitu Susi. Karena, unsur anak Pak Saleh dapat menggantikan unsur Susi. Perhatikan jajaran berikut:
Susi, anak Pak Saleh, sangat pandai
Susi, …., sangat pandai.
…., anak Pak Saleh sangat pandai.
Unsur Susi merupakan unsur pusat, sedangkan unsur anak Pak Saleh merupakan aposisi (Ap).
B.       Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik ialah frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.
Misalnya:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di dalam kelas.
Frase di dalam kelas tidak mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya. Ketidaksamaan itu dapat dilihat dari jajaran berikut:
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong di ….
Siswa kelas 1A sedang bergotong royong …. kelas
C.      Frase Nominal, frase Verbal, frase Bilangan, frase Keterangan.
1.       Frase Nominal: frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal.
Misalnya: baju baru, rumah sakit
2.       Frase Verbal: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan golongan kata verbal.
Misalnya: akan berlayar
3.       Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.
Misalnya: dua butir telur, sepuluh keping
4.       Frase Keterangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.
Misalnya: tadi pagi, besok sore
5.       Frase Depan: frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai                aksinnya.
Misalnya: di halaman sekolah, dari desa
D.      Frase Ambigu
Frase ambigu artinya kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Makna ganda seperti itu disebut ambigu.
Misalnya: Perusahaan pakaian milik perancang busana wanita terkenal, tempat mamaku bekerja, berbaik hati mau melunaskan semua tunggakan sekolahku.
Frase perancang busana wanita dapat menimbulkan pengertian ganda:
1.       Perancang busana yang berjenis kelamin wanita.
2.       Perancang yang menciptakan model busana untuk wanita.
B.            Klausa
Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.
Unsur inti klausa ialah subjek (S) dan predikat (P).
Penggolongan klausa:
1.       Berdasarkan unsur intinya
2.       Berdasarkan ada tidaknya kata negatif yang secara gramatik menegatifkan predikat
3.       Berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikat
C.      Kalimat
a.       Pengertian
Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.
Contoh: Ayah membaca koran di teras belakang.
b.       Pola-pola kalimat
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
1.       Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
2.       Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
3.       Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional. Kalimat ini mengandung kata kerja bantu, seperti: adalah, menjadi, merupakan.
4.       Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial
D.      Jenis Kalimat
1.       Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas dua unsur inti pembentukan kalimat (subjek dan predikat) dan boleh diperluas dengan salah satu atau lebih unsur-unsur tambahan (objek dan keterangan), asalkan unsur-unsur tambahan itu tidak membentuk pola kalimat baru.
Kalimat Tunggal
Susunan Pola Kalimat
Ayah merokok.
Adik minum susu.
Ibu menyimpan uang di dalam laci.
S-P
S-P-O
S-P-O-K
2.       Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat-kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih. Kalimat majemuk dapat terjadi dari:
a.       Sebuah kalimat tunggal yang bagian-bagiannya diperluas sedemikian rupa sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat baru, di samping pola yang sudah ada.
Misalnya:       Anak itu membaca puisi. (kalimat tunggal)
Anak yang menyapu di perpustakaan itu sedang membaca puisi.
(subjek pada kalimat pertama diperluas)
b.       Penggabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal sehingga kalimat yang baru mengandung dua atau lebih pola kalimat.
Misalnya:       Susi menulis surat (kalimat tunggal I)
Bapak membaca koran (kalimat tunggal II)
Susi menulis surat dan Bapak membaca koran.
Berdasarkan sifat hubungannya, kalimat majemuk dapat dibedakan atas kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk campuran.
1)       Kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang hubungan antara pola-pola kalimatnya sederajat. Kalimat majemuk setara terdiri atas:
a.       Kalimat majemuk setara menggabungkan. Biasanya menggunakan kata-kata tugas: dan, serta, lagipula, dan sebagainya.
Misalnya: Sisca anak yang baik lagi pula sangat pandai.
b.       Kalimat majemuk serta memilih. Biasanya memakai kata tugas: atau, baik, maupun.
Misalnya: Bapak minum teh atau Bapak makan nasi.
c.        Kalimat majemuk setara perlawanan. Biasanya memakai kata tugas: tetapi, melainkan.
Misalnya: Dia sangat rajin, tetapi adiknya sangat pemalas.
2)       Kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk yang terdiri dari perluasan kalimat tunggal, bagian kalimat yang diperluas sehingga membentuk kalimat baru yang disebut anak kalimat. Sedangkan kalimat asal (bagian tetap) disebut induk kalimat. Ditinjau dari unsur kalimat yang mengalami perluasan dikenal adanya:
a.             Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat penggati subjek.
Misalnya:       Diakuinya  hal itu
P             S
Diakuinya bahwa ia yang memukul anak itu.
anak kalimat pengganti subjek
b.             Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti predikat.
Misalnya:       Katanya begitu
Katanya bahwa ia tidak sengaja menjatuhkan gelas itu.
anak kalimat pengganti predikat
c.              Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti objek.
Misalnya:       Mereka sudah mengetahui hal itu.
S             P                             O
Mereka sudah mengetahui bahwa saya yang mengambilnya.
anak kalimat pengganti objek
d.             Kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan.
Misalnya:       Ayah pulang malam hari
S        P             K
Ayah pulang ketika kami makan malam
anak kalimat pengganti keterangan
3)           Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran adalah kalimat majemuk hasil perluasan atau hasil gabungan beberapa kalimat tunggal yang sekurang-kurangnya terdiri atas tiga pola kalimat.
Misalnya: Ketika ia duduk minum-minum, datang seorang pemuda berpakaian bagus, dan menggunakan kendaraan roda empat.
Ketika ia duduk minum-minum
pola atasan
datang seorang pemuda berpakaian bagus
pola bawahan I
datang menggunakan kendaraan roda empat
pola bawahan II
3. Kalimat Inti, Luas, dan Transformasi
a.       Kalimat inti
Kalimat inti adalah kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua kata dan sekaligus menjadi inti kalimat.
Ciri-ciri kalimat inti:
1)       Hanya terdiri atas dua kata
2)       Kedua kata itu sekaligus menjadi inti kalimat
3)       Tata urutannya adalah subjek mendahului predikat
4)       Intonasinya adalah intonasi ”berita yang netral”. Artinya: tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran makna laksikalnya..
b.       Kalimat luas
Kalimat luas adalah kalimat inti yang sudah diperluas dengan kata-kata baru sehingga tidak hanya terdiri dari dua kata, tetapi lebih.
c.        Kalimat transformasi
Kalimat transformasi merupakan kalimat inti yang sudah mengalami perubahan atas keempat syarat di atas yang berarti mencakup juga kalimat luas. Namun, kalimat transformasi belum tentu kalimat luas.
Contoh kalimat  Inti, Luas, dan Transformasi
a.       Kalimat Inti. Contoh: Adik menangis.
b.       Kalimat Luas. Contoh: Radha, Arief, Shinta, Mamas, dan Mila sedang belajar dengan serius, sewaktu pelajaran matematika.
c.        Kalimat transformasi. Contoh:
i)         Dengan penambahan jumlah kata tanpa menambah jumlah inti, sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis tersedu-sedu kemarin pagi.
ii)       Dengan penambahan jumlah inti sekaligus juga adalah kalimat luas: Adik menangis dan merengek kepada ayah untuk dibelikan komputer.
iii)      Dengan perubahan kata urut kata. Contoh: Menangis adik.
iv)      Dengan perubahan intonasi. Contoh: Adik menangis?
4. Kalimat Mayor dan Minor
a.       Kalimat mayor
Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur inti.
Contoh:          Amir mengambil buku itu.
Arif ada di laboratorium.
Kiki pergi ke Bandung.
Ibu segera pergi ke rumah sakit menengok paman, tetapi ayah menunggu kami di rumah Rati karena kami masih berada di sekolah.
b.       Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh:          Diam!
Sudah siap?
Pergi!
Yang baru!
Kalimat-kalimat di atas mengandung satu unsur inti atau unsur pusat.
Contoh: Amir mengambil.
Arif ada.
Kiki pergi
Ibu berangkat-ayah menunggu.
Karena terdapat dua inti, kalimat tersebut disebut kalimat mayor.
5. Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat berisikan gagasan pembicara atau penulis secara singka, jelas, dan tepat.
Jelas      : berarti mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.
Singkat  : hemat dalam pemakaian atau pemilihan kata-kata.
Tepat     : sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.
Kalimat Tidak Efektif
Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang tidak memiliki atau mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada kalimat efektif.
Sebab-Sebab Ketidakefektifan Kalimat
1.       kontaminasi= merancukan 2 struktur benar  1 struktur salah
contoh:
–        diperlebar, dilebarkan  diperlebarkan (salah)
–        memperkuat, menguatkan  memperkuatkan (salah)
–        sangat baik, baik sekali  sangat baik sekali (salah)
–        saling memukul, pukul-memukul  saling pukul-memukul (salah)
–        Di sekolah diadakan pentas seni. Sekolah mengadakan pentas seni  Sekolah mengadakan pentas seni (salah)
2.       pleonasme= berlebihan, tumpang tindih
contoh :
–        para hadirin (hadirin sudah jamak, tidak perlu para)
–        para bapak-bapak (bapak-bapak sudah jamak)
–        banyak siswa-siswa (banyak siswa)
–        saling pukul-memukul (pukul-memukul sudah bermakna ‘saling’)
–        agar supaya (agar bersinonim dengan supaya)
–        disebabkan karena (sebab bersinonim dengan karena)
3.       tidak memiliki subjek
contoh:
–        Buah mangga mengandung vitamin C.(SPO) (benar)
–        Di dalam buah mangga terkandung vitamin C. (KPS) (benar) ??
–        Di dalam buah mangga mengandung vitamin C. (KPO) (salah)
4.       adanya kata depan yang tidak perlu
–        Perkembangan  daripada teknologi informasi sangat pesat.
–        Kepada siswa kelas I berkumpul di aula.
–        Selain daripada bekerja, ia juga kuliah.
5.       salah nalar
–        waktu dan tempat dipersilahkan. (Siapa yang dipersilahkan)
–        Mobil Pak Dapit mau dijual. (Apakah bisa menolak?)
–        Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan)
–        Adik mengajak temannya naik ke atas. (naik selalu ke atas)
–        Pak, saya minta izin ke belakang. (toilet tidak selalu berada di belakang)
–        Saya absen dulu anak-anak. (absen: tidak masuk, seharusnya presensi)
–        Bola gagal masuk gawang. (Ia gagal meraih prestasi) (kata gagal lebih untuk subjek bernyawa)
6.       kesalahan pembentukan  kata
–        mengenyampingkan seharusnya mengesampingkan
–        menyetop seharusnya menstop
–        mensoal seharusnya menyoal
–        ilmiawan seharusnya ilmuwan
–        sejarawan seharusnya ahli sejarah
7.       pengaruh bahasa asing
–        Rumah di mana ia tinggal … (the house where he lives …) (seharusnya tempat)
–        Sebab-sebab daripada perselisihan … (cause of the quarrel) (kata daripada dihilangkan)
–        Saya telah katakan … (I have told) (Ingat: pasif persona) (seharusnya telah saya katakan)
8.       pengaruh bahasa daerah
–        … sudah pada hadir. (Jawa: wis padha teka) (seharusnya sudah hadir)
–        … oleh saya. (Sunda: ku abdi) (seharusnya diganti dengan kalimat pasif persona)
–        Jangan-jangan … (Jawa: ojo-ojo) (seharusnya mungkin)
.
E.       Konjungsi
Konjungsi antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf.
Konjungsi atau kata sambung adalah kata-kata yang menghubungkan bagian-bagian kalimat, menghubungkan antarkalimat, antarklausa, antarkata, dan antarparagraf.
1.        Konjungsi antarklausa
a.       Yang sederajat: dan, atau, tetapi, lalu, kemudian.
b.       Yang tidak sederajat: ketika, bahwa, karena, meskipun, jika, apabila.
2.        Konjungsi antarkalimat: akan tetapi, oleh karena itu, jadi, dengan demikian.
3.       Konjungsi antarparagraf: selain itu, adapun, namun.

Ketik Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *