The Deadly Mountain

Sebenernya ini cerpen belum selesai dan ini tulisan yang udah lama di buat tapi terpendam di email dari tahun 2011…
tulisan ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh dan salah kata itu murni salah saya sebagai penulis(lol)
“Ah… Hari yang membosankan!!!” gumanku dalam lamunanku. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyadarkanku dari lamunan dengan teriakannya yang memekakan telinga. “rafael… rafael… cepat sini aku ingin nunjukin sesuatu padamu.” Ku tengok dari jendela ternyata itu chinda, teman perempuanku yang baru saja 3 minggu pindah ke rumah yang tak jauh dari rumahku yang hanya terpisahkan oleh 5 rumah saja. “ tunggu sebentar nda, masuk saja tidak di kunci kok.” Jawabku dengan suara yang sama kerasnya atau mungkin lebih keras aku. Memang meski baru 3 minggu yang lalu kami kenal tetapi kami seperti teman yang telh 10 tahun bersahabat. Akupun menghampirinya karena dia teak berani tuk masuk ke rumahku mungkin dengan alasan tidak sopan, dia selalu menggunkan alasan itu.
“Raf coba lihat ini.” Ucap dia sembari menunjukan selembaran yang berisi tentang pendakian gunung, yah meski cukup bahaya aku dan chinda menjadi penasaran dengan selembaran itu. “wah kita harus coba nih ini akan menjadi hal yang menarik. Kita bisa ajak Tobo, Natan, Aurel, dan adikmu chinsa yang dapat menjadi teman 1 kelompok dengan kita berdua. Chinda memang memiliki adik yang kembar dengan dia, chinda dan chinsa selalu pergi bersama. Tapi kali ini aku tak melihat chinsa. “Benar juga katamu, mereka dapat jadi tim kita apalagi aku dan chinsa… hehehe kamu tahu sendirikan Raf.”jawabnya yang ternyata setuju dengan apa yang aku usulkan”ya…ya…ya… kau dan chinsa memang selalu kompak, eh ya dimana chinsa?” aku kembali bertanya pada chinda tentang chinsa.”Dia di suruh ibu pergi ke pasar. Aku malas jadi chinsa yang pergi.”ucapnya dengan wajah polosnya.
Setelah beberapa hari akhirnya kami berhasil mendaftarkan diri sebagai salah satu tim yang akan ikut mendaki. Aku mendaftarkan aku,Tobo,Natan,Aurel yang merupakan pacar natan,Chinda dan Chinsa. Dan mereka mengusulkan aku yang menjadi ketua tim ini. Esoknya kami bersiap-siap untuk pergi mendaki gunung. Kami memang cukup beruntung karena dari 100 tim yang mendaftarkan diri hanya 25 tim yang akan di berangkatkan.
Sehari setelah kami siap-siap akhirnya kami berangkat menggunakan mobil Natan. “Nat dimana Tobo? Padahal ini sudah jam 07.00 kita harus berangkat ½ jam lagi.”aku menanyakan keberadaan Tobo, yang belum datang hingga jam segini padahal biasanya dia yang paling rajin. “ tadi dia bilang baru berangkat, katanya sih gak ada kendaraan buat kesininya.”jawab Natan dengan tetap melihat keadaan mobilnya agar tak terjadi apa-apa nanti dalam perjalanan, karena perjalanan yang akan kita tempuh ke tempat di mulainya pendakian saja sudah 7 jam. Padahal itu sudah menentukan kapan kami istirahat. Sekitar 10 menit kemudian Tobo datang. “ maaf teman-teman aku telat.” Ucap Tobo dengan wajah dinginnya tanpa menunjukan ekspresi apapun, yang membuat kmi bingung dengan ekspresinya. Itulah yang membuat kami untuk mengajaknya dalam pendakian ini. Dan setelah lengkap akhirnya kami memulai perjalanan ke tempat dimana pendakian di mulai.
Perjalanan yang membosankan hilang seketika, ketika aku dan yang lain melihat danau yang indah yang baru pertama kali aku melihat danau seindah itu. Kami yang merasa lelahpun memutuskan untuk istirahat sejenak agar hilang penat selama perjalanan yang baru kurang dari ½ perjalanan yang di tempuh oleh kami. Kami pun segera memarkirkan mobil kami di dekat danau dan kami pun berjalan-jalan di dekat danau. “nda kamu gak ikut dengan mereka, tuh mereka sedang main air danau.” Tanyaku pada chinda yang saat itu sedang berjalan sendirin saja di tepi danau. “ gak ah, malas aku.” Jawab dia secara singkat. Akhirnya aku mendekati yang lain yang saat itu sedang main air untuk sekalian saja berenang di danau untuk membersihkan diri. Kami pun berenang hingga tak tersa sudah 1 ½ jam kami istirahat dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju di mulainya pendakian.
Setelah sampai di tempat di mulainnya pendakian kami pun memasang tenda untuk kami beristirahat, karena kami akan berangkat 2 hari lagi, dan selama 2 hari kami akan di berikan pengarahan oleh panitia. Setelah pengarahan pertama selesai aku, tobo, chinda,chinsa,natan dan aurel berkumpul untuk menentukan jalur yang akan di tempuh oleh kelompok kami. Natan dan aurel, hanya mereka berdua saja dari awal hingga sekarang berduaan
“raf, kata pak edo kan ada 5 jalur yang dapat di tempuh. Bagaimana jika kita pilih saja jalur D, kita kan di suruh lewati jalur B.” Ucap natan
“bagaiman caranya?” jawabku dengan bingung karena mana mungkin bisa terjadi perpidahan jalur
“kalau itu kita coba saja tenyakan pada pak edo, kali aja dia ngizinin kita pidah jalur tempuh.”
“Tapi nat, kayanya gak mungkin deh kita bisa pindah jalur.” Tobo pun ikut menimpali obrolanku dengan natan
“kita kan belum mencoba mengatakan pada pak edo.”
“Iya juga sih” aku mulai setuju dengan sarannya, karena jalur D adalah yang paling aman untuk kita. Beberapa saat kemudian kami mengusulkan agar kami di pndahkan dari jalur B ke jalur D yang kita pekir lebih cocok kita lewati.
Tak terasa sudah 12 jam kita melakukan pendakian, kita menggunakan jalur D yang kita usulkan kepada pak edo. Kita memang sangat senang dengan jalur ini, karena jalur ini berdekatan dengan sungai tempat kita akan berkemah untuk istirahat, sedangkan jaluur lain harus menempuh sekitar 1-3 jam lagi untuk ke tempat perkemahan yang pertama, di jalur D ini ada 5 kelompok yang terdiri dari kelompok 1 yaitu kelompok kami, dan teman-temanku ini memilihku untuk menjadi pemimpin di kelompok ini. Kelompok 4 yaitu miwakh, ramon, army, rasyhid yang satu-satunya orang dari timur tengah, dan pemimpinnya drago. Sedangkan tiga kelompok yang lain yaitu kelompok 6,9,12 kami tidak terlalu mengenalnya. Pak edo adalah pembimbing pada jalur ini.
Di dekat sungai kamipun membangun tenda, ada 6 tenda 5 tenda bagi setiap kelompok, dan yang 1 untuk pembimbing dan sekaligus tempat penyimpanan barang. Dan tak terasa malam telah tiba. Udara terasa amat sangat dingin aku dan teman-teman pun memutuskan untuk mncari kayu bakar agar kita dapat membuat api unggun. Kami pun memutuskan aku dan natan saja yang pergi mencari kayu sedangkan teman kami yang lain dapat memeprsiapkan peralatan yang lain.
Ketika aku dan natan mencari kayu bakar, aku melihat ada sesuatu yang aneh pada sebuah pohon, kamipun mendekati pohon itu.
“lihat nat apa ini?” tanyaku heran karena ada sebuah tulisan yang di ukir pada sebuah batang di pohon.
“aku gak tau tuh, tapi tampaknya ini sebuah kode. Atau mungkin juga sebuah petunjuk yang di berikan seseorang bagi orang-orang yang melewati area ini.”
“mungkin juga, tapi aku tetap merasa bingung kenapa seseorang menuliskan itu, padahal itu bisa di baca oleh siapa saja oleh yang melewati area ini. Jadi jika di tujukan pada seseorang harusnya di tempat yang jarang di jamah oleh manusia.”
“benar juga, tapi mungkin ini adalah sebuh petunjuk untuk mendapatkan suatu barang. Karena tempat ini sering di jamah orang maka bisa saja setiap orang memecahkan petunjuk ini dan mendapatkn barangnya.”
“Benar juga ya. Kenapa tidak terpikirkan olehku. Tapi apakah arti petunjuk ini?” ku heran karena aku tetap tidak bisa membaca tulisan itu yang di tulis dengan huruf kanji jepang, untung saja aku mengajak natan yang cukup pandai membaca huruf jepang.
“sebentar biar aku baca.”natan dia sejenak untuk membaca tulisan ini dan mengartikannya ke dalam bahasa inggris.
“kau bisa membacanya kan nat?”
“di sini di tuliskan ‘i forgotten island. but, why you all not touch me. And now i will make you all to be happy, if you come to me.”
“maksudnya nat apa?”
“aku tidak tau, tapi mungkin kita akan bahagia. Tapi tunggu ada kelanjutannya.’
“apa itu?” tanyaku semakin penasaran
“i think if you come to me, you must ready to die. Because you will be happy when you come to mine. But now, there is something that me hidden. You must find me.”
“aku jadi tambah bingung nat.”ucapku sembari mengaruk-garuk kepala yang tak gatal. “ bagaimana kalau kita tuliskan saja di handphoneku. Dan nanti setelah pulang dari sini kita pecahkan.”
“ide yang bagus. Aku juga bingung dengan kata-kata ini.”ucap natan yang setuju dengan saranku
Aku dan natan kembali ke perkemahan dan kami membuat api unggun.. karena besok kita akan melanjutkan pendakian, kami pun cepat-cepat tidur agar kami tidak bangun kesiangan esok pagi. Aku yang sekarang giliran jaga di depan tenda, dan sekitar 2 jam aku akan di gantikan oleh natan, dan setalah itu tobo yang mendapat giliran menjaga di depan tenda. Api unggun yang belum padam menjadikan penghangat tubuh, dan satu-satunya yang menemaniku. Dan tak terasa sudah 1 ½ jam aku berjaga, tapi aku mendengar suara langkah kaki yang membuat bulu kudukku berdiri. Dan beberapa saat kemudian terdengar ada yang keluar dari tenda kelompokku.
“ Raf, anterin aku ke sungai yuk. Aku mau buang air.” Ucap aurel tiba-tiba yang membuatku kaget.
“aduh aurel aku kamu setan, kenap kamu tidak ajak natan atau tobo saja?” tanyaku
“kasihan mereka lagi tidur, sebntar lagi kan mereka yang jaga, lagipula kamu yang lagi jaga ya sudah, aku ajak kamu.”
“ya udah deh tapi jangan lama-lama yah.”
“iya… bawel banget nih anak.”
“udah jangan protes, atau aku gak akan nganter kamu nih.”
“jiahhh… gitu aja marah.”
“ya udah yuk.”
Aku pun mengantarkan aurel meski suara tadi masih membuat aku penasaran sekaligus membuatku takut. Beberapa menit kemudian kamipun sampai di sungai. Aku hanya menunggu dan agak jauh jaraknya dengan aurel. Karena merasa bosan akupun mengambil hpku dan membaca tulisan tadi di pohon. tai Beberapa saat kemudian terdengar jeritan aurel yang kemudian jeritan itu hilang. Akupun cepat-cepat menghampiri aurel tapi ketika aku mendekat aku tersentak kaget.
“apa yang terjadi, kenapa bisa sampai terjadi seperti ini.”gumamku dalam hati dan tak terasa air mataku mulai menetes ketika aku hanya melihat tubuh aurel tanpa kepala yang berceceran darah. Dan aku tidak tau harus bagaimana mengatakannya pada yang lain terutama pada natan
“bodoh… bodoh… kenapa dari tadi aku tidak memerhatikan dia.” Sesalku. Tapi ada yang lebih membuatku kaget ketika aku melihat di samping ada sebuah surat. ‘ 1 mangsa telah ku dapat tapi masih ada 5 mangsa lagi yang harus ku terkam. Hahaha… tapi tenang kalian masih ada waktu untuk hidup. “ATN_RCC” will die”…hahahaha.’ dengan kesal ku remas-remas surat itu dan segera kembali ke tenda sebelum terjadi sesuatu terhadap yang lain.
Dan setelah aku datang di tenda ku lihat natan sedang berjaga dan langsung menanyakan habis dari mana aku.
“Dari mana kamu raf?kenapa kau menangis? Dan apakah kau melihat aurel ” ucapnya heran karena melhat wajahku yang berlinang air mata sekaligus membawa sepucuk surat. Tapi aku tidak menjawab.
“kau dari mana raf? Dan dimana aurel”aku tetap tak bicara apapun, aku hanya menyerahkan surat yang aku temukan di samping aurel.
“apa ini maksudnya?”
“Aurel nat” ucapku dengan pelan.
“ya!!!! Kenapa dengan dia dan apa maksudnya ini.”
“aurel telah…”gumamku tanpa melanjutkan kata-kataku lagi
“aurel kenapa raf?”tanyanya dengan suara keras hingga membuat yang lain terbangun
“ada apa?”ucap teman-temanku yang lain
“Aurel aku temukan terbunuh di pinggir sungai ketika ia minta menemaninya buang air, tapi aku hanya menungguinya dari jauh.” Aku pun menjelaskan kejadiannya bagaimana meski dengan air mata yang tidak mau berhenti mengalir
“APA!!! Ucap semuanya serentak karena kaget sekaligus tidak percaya.
“iya… maafkan aku teman-teman, aku memang tidak pantas untuk memimpin kelompok kita ini.”
“lalu dimana jasadnya sekarang?”
“di dekat sungai, dan aku sudah menutupinya dengan jaketku,tapi…”ucapku tapi tiba-tiba terhenti, aku tidak sanggup lagi mengatakannya.
“tapi apa!!!” ucap natan dengan penuh ke khawatiran
“kamu lihat sendiri saja nat.”
Kamipun cepat-cepat ke tempat aku meninggalkan jasad aurel, dan ketika natan dan yang lainnya melihat kedaan aurel serentak tangispun tak terelakan lagi. Terutama natan yang tidak tahu harus bagaimana, karena ia tidak tau harus bagaimana mengatakan pada orang tua aurel. Lalu kemudian natan menanyakan tentang surat yang aku temukan. Akupun hanya menjelaskan yang ku ketahui saja.
“raf, lalu apa maksud surat itu?”
“aku tidak tahu, yang aku tahu si pelaku menginginkan agar kit semua lenyap dari dunia ini, dan ini mungkin ada hubungannya dengan petunjuk yang tadi sore.”
“tapi apa yang mereka inginkan dari kita.”ucap tobo yang tidak tahu menahu soal petunjuk tai sore, karena aku dan natan belum menceritakannya. Lalu aku dan natan bergantian menceritakan kejadian tadi sore ketik aku dan natan mencari kayu bakar
“kenapa kalian tidak bilang dari dari awal.” Ucap tobo yang heran kenapa kami tidak bilang.
“tadinya kami akan bilang tadi malam sebelum kita tidur, tapi kami lupa.”ucap natan memberikan alasan.
“jika kalian bilang, mungkin ini semua tidak akan terjadi.” Chinsa ikut menimpali
“tidak teman-teman, sepertinya dari awal kita memang sudah di incar dan terutama ketika kita menemukan sebuah petunjuk yang membingungkan.” Kamipun terus berdebat hingga tak terasa sudah menjelang jam 4 pagi. Dan kami pun membawa jasad aurel ke tempat perkemahan dan ketika kami datang di tenda kami pak edo sedang duduk menunggu kami dan menanyakan kepergian kami. Kami pun mejelaskan kejadian yng menimpa teman kami, dan pak edo bilng akan bertanggung jawab atas masalah ini, dan sekarang kita harus bersiap-siap karena jam 6 pagi kita harus meninggalkan tempat ini, dan pak edo menelpon seseorang untuk segera datang. Dan beberapa jam kemudian datang sebuah tim yang sudah di persiapkan jika ada yang terluka parah, tim itu bukan di maksudkan untuk membawa seorang mayat tapi dengan terpaksa tim itupun membawa jasad aurel yang tanp kepala untuk di otopsi, dan kami tetap melanjutkan perjalanan, karena kami pikir mungkin kami dapat menemukan petunjuk untuk menemukan pelaku pembunuhan keji itu.

pengen bikin part 2nya buat lanjutannya…
eummm kalo sempet mau di bikin part 2nya.

Ketik Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *