Untuk Istriku

Sudah satu tahun lebih kita berumah tangga, kau adalah orang yang sangat berharga bagiku, orang yang sayang aku sayangi, namun ingatkah kau dulu sebelum kita menikah?

kita hanya menjalani persiapan pernikahan selama sebulan, dan satu setengah bulan untuk berkenalan. Masih terekam jelas didalam benakku, saat pertama kali ku chattingan bersamamu. Aku ingat saat pertama kali ku mengatakan “Anak SMAN 1 Padalarang juga ya?”. yah kata itulah yang ku ucapkan pertama kali, mungkin anak jaman sekarang mengatakannya modus, namun karena itulah kita bisa berkenalan.

Ntah kenapa aku memutuskan untuk mencari kontakmu dibandingkan kedua sahabatmu, setelah menikah kaupun pernah bertanya “aa, kan katanya tertarik sama aku karena liat foto aku sama M dan R, tapi kok malah milih aku, bukan M dan R?” akupun sebenarnya bingung harus ku jawab apa, namun yang pasti aku tertarik padanya dibandingkan kedua sahabatnya itu. Dan baru ku ketahui setelah Ta’aruf dan setelah menikah bahwa sahabatnya M masih kuliah dan R sudah punya pacar yang bahkan sudah bertunangan dan akan segera menikah. 

Mungkinkah ini kebetulan? atau memang ini rencana Allah untuk kita berdua?, yang aku yakini adalah kau hidup dan matiku, dan kau telah mengandung anakku wahai istriku. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah dan kaupun akan menjadi seorang ibu, kita harus mendidik anak kita dengan sebaik mungkin dan sesuai dengan ketentuanNya.

Istriku ingatkah saat kau mengatakan kau sebenarnya belum lama putus dari pacarmu saat itu, dan kau memutuskannya agar bisa mengikuti ketentuan Allah yang melarang pacaran dan ingin menikah dengan orang yang tidak mengajak pacaran dulu, dan entah kenapa akupun sama. Akupun belum lama putus dengan pacarku yang saat itu, karena aku mengajaknya menikah namun katanya dia belum siap, akupun putuskan dia. Aku tak tau harus berkata apa, mungkin inilah jalan yang Allah tunjukan sehingga Allah mempertemukan kita. 

Wahai Istriku ingatkan setiap kau meminta untuk dapat bekerja aku selalu melarangnya. Aku lakukan itu karena aku ingin kau menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Namun aku tidak melarangmu untuk membuka bisnis dirumah. 

Bersambung . . . . . 

Ketik Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *