Zaid Sayang dari Umi

Zaid Sayang dari Umi

Anakku sayang, anakku sayang, anakku sayang.. umi dan abi yang sangat merindukan sosok seorang anak demi kelengkapan kehangatan keluarga kecil kita. Sepuluh bulan lamanya waktu yang Allah berikan pada kita untuk terus bersabar dan tawakal, serta menguatkan kita akan indahnya berusaha telah kita lewati. Hingga pada akhirnya Allah memberikan waktu terbaiknya pada kita setelah menunggu yaitu dengan dikandungnya kamu oleh umi zaid sayang.
Dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan.. rasa rindu umi dan abi begitu menggebu ingin segera bertemu denganmu wahai zaid sayang. Rasa mual yang berbulan-bulan umi rasakan, mengandung, hingga merasakan sakit karena bawaan setiap bayi itu umi nikmati dengan ikhlas karena umi sangat merindukan sosok seperti jagoan kecil umi ini zaid sayang.
Hingga waktu itupun tiba, waktu dimana bumi seperti berhenti berputar sekejap. Bayangan kesalahan selalu muncul pada memori ingatanku saat ini.. apa ini semua salahku? Salah kami sebagai orang tua? Tidak, abinya zaid sayanglah yang menguatkan aku dan memberikan pencerahan bahwa ini semua adalah takdir Allah yang ditetapkan pada kita. Agar kita lebih sabar dalam menghadapi setiap masalah walaupun ini merupakan cobaan terbesar untukku yang pernah kurasakan. Setiap ibu hamil pada umumnya akan mengalami perasaan ingin segera melahirkan anaknya kedunia bukan? Ya, sama halnya denganku.. ingin, sangat ingin, begitu ingin. Mungkin Allah belum juga memberikan rasa itu padaku hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengambil jalan melalui proses induksi agar bayi kami lahir kedunia ini.
Aku, abinya zaid sayang, neneknya, kakeknya, keluargaku, keluarga besarku, bahkan tetangga-tetanggaku yang ada disini dan disana juga sepertinya mempunyai rasa yang sama, yaitu ingin segera melihat kamu zaid sayang.

Proses induksi pun dimulai, rasa sakitnya dua kali lebih sakit dari melahirkan biasa itu memang benar aku rasakan. Apapun itu, tetap akan kulakukan demi kamu zaid sayang. Pembukaan dua, ketiga keempat berjalan beberapa jam. Hingga sampai pada pembukaan kelima, air ketuban pun pecah. Warnanya hijau yang berarti racun untuk kamu zaid sayang. Tak ada pilihan lain untuk menyelamatkanmu saat itu kecuali caesar sayang, dan yang kupikirkan saat itu adalah.. apapun asalkan yang terbaik untuk kamu nak, walaupun nyawa umi taruhannya umi siap. Proses operasi pun dimulai saat itu juga, aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku, hanya yang ku pikirkan adalah keselamatan zaid sayangku. Saat dia diangkat oleh dokter, tangisnya membuatku ingin menangis juga. Tapi dokter berkata bahwa aku tidak boleh menangis, tegar saat proses operasi berlangsung. Selesai operasi, dan zaid sayang selesai diurus, dipertemukanlah aku dengannya untuk pertama kali. Yang kulihat dia sudah dipasang alat infus, dijelaskanlah saat itu juga bahwa dia butuh perawatan dahulu karena racun itu yang dia hirup membuat nafasnya sedikit terganggu. Setelah itu berpisahlah kami pada ruangan yang berbeda.
Lima jam berlalu setelah suntikan anastesi itu, terasalah bekas sayatan dan jahitan itu dalam tubuhku. Semua itu hanyalah demi zaid sayang seorang. waktu pagi kesiang harinya rasa rinduku makin amat padanya. Hanya saja aku tidak boleh dahulu menemuinya karena kondisi ku sendiri juga belum bisa apa-apa saat itu, hanya miring kanan dan kiri dan itu pun dengan susah payah. Siang itu, abi zaid sayang pun mendapat telepon dari ruang HCU agar cepat kesana. Semoga tak terjadi apa apa doaku. Sepulangnya dari lantai 3, dia menghampiriku dan berkata, “sayang, dede nafasnya makin sesak, harus segera dirujuk ke ruang NICU, kalau engga mungkin katanya dede gak ketolong dijalan”. masyaAllah pecah tangisku saat itu, langsung dicarilah rumah sakit yang punya ruang NICU saat itu juga, dibantu kakak abinya de zaid mencari RS itu. Seharian mencari, tak dapatlah RS itu, dengan berbagai kondisi yang ada. Ruangannya penuh, alatnya belum ada, ruangannya belum ada, sampai tidak ada nya ruangan ini. Jam pun sudah menunjukan pada pukul 8 malam, dengan hasil tak ada yang kosong hari itu. Dan kabar terakhir yang membuat lega hati adalah adanya ruang NICU kosong pada keesokan harinya didustira karena ada yang akan pulang besok. Sambil berdoa, semoga zaid sayang kuat, aku percaya zaid hebat, anak sholeh, dia kebanggan umi dan abi.
Malam pun menjelang, entah kenapa aku kepikiran zaid sayang terus, mungkin rasa rinduku yang ingin segera bertemu itu semakin menggunung. Malam sekitar jam 3 dini hari Abinya zaid sayang ditelepon ruang ICU kembali, entah apa yang akan dibicarakan yang jelas semoga tak terjadi apa-apa harapku. “mah, kok si aa lama yah, semoga dede ga kenapa-napa”, ucapku pada ibuku. Datanglah abinya zaid sayang jam 4 shubuh dan berkata padaku “yang, dede yang. dede udah gak ada”. Pecahlah tangis kita berdua dishubuh hari itu, tak kuasa menahan air mata yang jatuh, sambil merasakan sakit diperut ini yang tak kuperdulikan, akupun terus menangis dalam pelukan abi zaid sayangku itu. Ibuku mencoba menguatkan aku sembari ia pun tak kuasa menahan air mata dimatanya untuk tidak jatuh kepipinya. “yang, aku kan mau ajarin dede zaid ngaji, wisuda aa juga kan kita mau ajak dede zaid,” “iya, aa juga mau ceritain ke dede kenapa namanya zaid izzatulhaq yah, karena zaid itu nama sahabat rasul yang ingin rasul angkat sebagai anak angkatnya yah”. Semua rencana itu seakan pupus begitu saja saat itu juga “Aku pengen ketemu dede zaid yang, bawa aku pake kursi roda aja, sekarang.” permintaanku tak ada yang menggubris, dengan alasan selesai operasi lah, belum sehat lah, takut inilah itu lah. Please, aku seorang ibu yang baru sekali melihat anakku, bahkan aku belum sempat menyusuinya, memangkunya, apalagi mengurusnya. Dengan sedikit memaksa dan bernegosiasi dengan pihak yang ada, akhirnya diizinkanlah aku menemuinya untuk yang terakhir kalinya itu sebelum de zaid dibawa pulang untuk dimakamkan dengan persyaratan ini itu dan tanda tangan jelas agar tak terjadi hal yang tidak diiginkan.
Saat de zaid didorong menghampiriku, ditutupnya oleh kain samping batik dan kain penutup box bayi. Saat kedua kain itu dibuka, “subhanallah dee”, ucapku. Diberikanlah ia padaku untuk aku gendong pertama dan terakhir kalinya itu “De masyaAllah kamu senyum nak, udah gak sesak lagi yah, bahagia yah sayang disisi Allah”. Ditatapnya olehku dia hanya tersenyum padaku. Sebelum diambil kembali dari pangkuanku, aku meminta izin menciumnya untuk pertama dan terakhir kalinya. Saat ku cium pipinya, dalam hati kuberkata‘deee, pipi kamu lembut sayang, dingin. ingin umi menghangatkanmu’. aku gak mau nangis depan de zaid, aku takut dia sedih, dan aku gak nangis. tapi setelah de zaid dibawa kembali untuk pulang air mataku pun pecah saat itu juga. Dan ibuku yang menguatkan ku agar aku kuat dan jangan menangis kembali. Abinya zaid sayang pun ikut untuk memakamkan zaid dan aku hanya terbaring tak berdaya dirumah sakit. Sedih sekali rasanya tak boleh bahkan tak bisa ikut mengantarkan anakku sendiri untuk dimakamkan.
Keesokan harinya pun aku pulang dengan permintaan ingin liat dede zaid dulu ke makam. Makam anak yang baru ku lahirkan. ”De, masyaAllah umi sekarang hanya bisa lihat makam dede, cium padung Dede, tapi dede masih bisa liat umi kan yah? Dede dulu ngerasa gelap kan yah diperut umi, sekarang dede udah gak gelap lagi, karena saking sayangnya Allah sama dede, dede kan sekarang udah terang ada disisi Allah.. bahagia disana sayang, umi sayang dede, sayaaang banget. maafin umi nak umi belum bisa gendong kamu saat kamu masih ada, belum nyusui kamu juga, tapi kamu mah beneran anak umi yang sholeh nak, selama hidup kamu, kamu mah udah puasa.. umi aja gak sanggup puasa selama kamu sayang, kamu puasa 24 jam bahkan bisa disebut seumur hidup, kamu mah masyaAllah sholeh pisan. Umi kangen kamu nak, tolong datang ke mimpi umi yah, walau cuma dimimpi, umi ingin banget meluk kamu, cium kamu lagi, rinduuuu banget nak.. tenang disana yah zaid sayang .”

Ketik Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *