Pasca Caesar, Cerita Hidupku

Hari demi hari umi lewati tanpa kehadiranmu wahai anakku sayang. Moment saat dimana ada umi pasti ada kamu pun sudah terlewati beberapa bulan lalu sebelum moment terburuk itu datang pada kehidupan kita sayang. Hampa pasti, sedih tak usah ditanya, apalagi sakit. Tapi jika dibandingkan rasa sakit yang umi rasakan setelah hilangnya efek suntikan bius untuk menghilangkan rasa sakit saat di operasi caesar saat akan menyelamatkan kamu, lebih sakit saat mendengar kabar buruk itu. Waktu sudah berlalu, sedikit demi sedikit umi mengerti akan sebuah rasa ikhlas. Ketika kita selalu berfikir tentang mengapa begini atau begitu, sesungguhnya bukan itu arti ikhlas. Ikhlas ialah tak pernah berfikiran kenapa kamu tiada, kenapa aku harus seperti ini, kenapa langkah kita tak sesigap orang lain saat rasa mulas tidak datang menghampiri umi, mengapa? Mengapa? Ikhlas yang sesungguhnya itu benar benar melepaskan kepergiannya. Lho kenapa, dia kan anak yang sangat kamu idamkan, impikan dan tunggu tunggu? Ya, tepat sekali, tapi saat kita berfikiran semua itu apakah dia akan kembali lagi padaku sekarang? Tidak. Tapi jikalau aku benar-benar mengikhlaskannya, maka dia akan kembali padaku dan memelukku disana disurgaNya. Aku percaya itu, karena anakku adalah anak yang sholeh. Hebatnya dia itu ketika hidupnya hanya dihabiskan untuk berpuasa kurang lebih dua puluh empat jam. Hebat bukan anakku? Maka dari itu aku bangga padanya, terutama saat ia pergi dengan senyuman manis diwajahnya, yang menurutkan jarang ada yang pergi dengan senyuman.

Sebelum masa nifasku berakhir, ramadhan telah menyambut dengan penuh suka cita. Ya.. aku menyambutnya dengan kegembiraan pula dengan keyakinan yang selalu ditanam suamiku jika kita bahagia, otomatis zaid akan bahagia juga disana. Saat hari kemenangan itu kami berada dirumah yang dekat dengan kediaman mertuaku. Sebelum berkunjung kerumah ku, aku dan keluarga suamiku berkunjung terlebih dahulu ke makam. Makam dimana ada zaid, kakeknya, serta buyut buyutnya. Rindu sekali rasanya, dan aku selalu berharap ia datang kemimpiku.

Setelah selesai berdo’a, aku dan suami bergegas pergi ke rumah keluargaku. Sepertinya kami terlambat, karena semua telah berkumpul disana. Walau kedua kakakku beserta kakak kakak iparku tidak bisa datang dilebaran tahun ini, tetap kami bercanda ria disana. Apalagi ketika membicarakan kejadian memalukan saat malam takbiran kemarin karena perutku tidak terlalu kuat memakan ayam geprek yang super pedas yang membuat penyakit ambeyen ku kambuh. Sepertinya aku jadi bahan bullyan keluargaku sendiri.. tapi tak apa, ketika rasa kehilangan yang rencananya aku akan bawa anakku dihari kemenangan itu seketika sirna.

Dua hari setelah hari itu, salah satu kakakku mengajakku untuk pergi berendam di pemandian air panas di ciwidey. Aku sangat senang dan bangga karena kakakku itu paham betul dengan keadaanku. Dia ingin aku kembali tersenyum, meski hanya sejenak setidaknya dia berharap aku dapat melupakan kesedihanku. Meskipun disana aku belum boleh untuk berendam karena kondisi luka ku yang belum sembuh benar, tapi disana aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan. Ya, disetrum ikan. Aku menganggapnya demikian karena terapi ikan ini rasanya seperti menyetrum kaki yang aku celupkan pada kolam hingga ikan-ikan itu menghampiri seperti menciumi kakiku. Rasanya geli, sampai menjerit karena tak kuasa antara rasa geli, takut, tersetrum juga penasaran. Semuanya membuatku bahagia meski hanya sesaat.

Dan juga suamiku yang selalu ada untuk menyemangatiku, selalu berusaha membuatku tersenyum. Dia selalu mengatakan kalau dede sudah bahagia disana, dijaga sama Malaikatnya Allah, diakhirat kelak kita bisa bersama kembali, dia tau dede pasti masuk surgaNya dan dia selalu mengatakan kita harus berusaha sebaik mungkin agar taat sama perintahnya Allah agar kitapun dapat masuk ke surgaNya dan kita bisa berkumpul kembali disurganya kelak…

Tunggu Umi dan Abi ya De, Umi dan Abi akan selalu berusaha sebaik mungkin, kita akan berkumpul lagi disana…
Umi, Abi, De Zaid dan adik De Zaid nanti.

Ketik Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *